Subscribe:

Ads 468x60px

Loading

Selasa, 22 Maret 2011

Scorpion



Band ini berdiri pada tahun 1965 oleh Rudolf Schenker di Hanover, Jerman. Kemudian adik Rudolf, Michael dan Klause Mein ikut bergabung pada tahun 1969. Setelah mengalami beberapa kali ganti personel maka formasi terakhir Scorpions terdiri dari Klause Meine (vokal), Matthias Jabs (gitar), Rudolf Schenker (gitar), Pawel Maciwoda (bass), dan James Kottak (drum).

Scorpions ingin mengakhiri karir musiknya yang luar biasa dalam sejarah. Mereka dihadapkan fakta bahwa mereka telah membuahkan karya legendaris sejak era 60an dan telah menjual lebih dari 75juta album diseluruh dunia.

Dalam usianya yang telah mencapai tiga dekade, kendati harus beberapa kali mengganti formasi, The Scorpions tetap exist di tengah kemunculan sejumlah grup musik cadas belia. Bahkan The Scorpions tetap dikenal rajin menelorkan album baru.

Melalui moto Don’t Stop At The Top, The Scorpions memasuki milenium baru dengan penuh keyakinan bahwa setelah lebih dari 27 tahun berkibar di dunia musik rock mereka tetap mampu bertahan. Terbukti bahwa Scorpions semakin memperkaya aransemen musiknya dengan menambah unsur orkestra dan juga meluncurkan Acoustica yang direkam secara langsung ketika penampilan mereka secara unplugged di Portugal.

Unsur orkestra ditampilkan bersama Berlin Philharmonic Orchestra, di mana Scorpions telah menjalin proyek kerja sama sejak tahun 1995 termasuk mengadakan pertunjukan pada Expo 2000 di Hanover (Jerman) dan mencetak album bersama yang juga memuat lagu resmi EXPO yang berjudul Moment Of Glory.

Sebelumnya pada tahun 1999 The Scorpions mendapat undangan khusus dari Pemerintah Jerman untuk melakukan pertunjukan memperingati 10 tahun runtuhnya Tembok Berlin dan Unifikasi Jerman. Konser spesial tersebut digelar di depan Gerbang Bradenburg yang bersejarah.

Bulan Mei 2001 The Scorpions kembali menggebrak dunia dengan meluncurkan Acoustica. Dalam album yang juga bernuansa lagu rakyat Iberia tersebut, The Scorpions tampaknya sengaja melibatkan Christian Kolovitz sebagai arranger dan co-producer yang juga mampu menampilkan kepiawaiannya memainkan kibor yang suaranya juga dirancang bak organ klasik dalam album itu. Ditambah dengan gesekan manis Arian Arcu pada cello dan kelincahan Argandona memainkan seperangkat perkusi, jadilah Acoustica semakin menampilkan gaya folk-art yang manis dengan kombinasi antara alunan mendayu-dayu sampai entakan meriah.

Tengok saja aransemen lagu Holiday dan Hurricane2001 yang mengingatkan pada gaya musik kelompok folk-art terkenal asal Spanyol, Gypsi King. Kocokan gitar Matthias Jabs dan Rudolf Schenker ditambah personel baru, Johann Daansen, sengaja dibuat berwarna sangat folk-art sehingga mengundang entakan kaki bak para penari Flamenco.

Sebaliknya alunan manis cello Arcu tampak mendominasi lagu Send Me An Angel yang digarap untuk membangkitkan bayangan tentang nuansa misteri kawasan Iberia di kawasan Selatan Eropa. Sentuhan musikal yang bernuansa misterius namun terasa hangat kembali diperdengarkan dalam Under The Same Sun yang kali ini lebih menonjolkan petikan gitar duet Schenker dan Jabs. Sedangkan dalam I Wanted To Cry (But The Tears Wouldn’t Come), permainan piano Kolovitz mendominasi sepanjang lagu.

Kekuatan lain album Acoustica dihadirkan melalui Lengkingan khas vokal Klaus Meine yang diperkuat dengan kekuatan koor cantik tiga dara manis selaku vokal latar. Di samping itu kehadiran tiga lagu bukan gubahan The Scorpions (Drive, Love Of My Life, dan Dust In The Wind) menjadikan Acoustica semakin menarik untuk disimak.

THE Scorpions yang telah terbentuk sejak tahun 1965 dengan duet Meine dan Schenker sebagai motor penggerak, pada awalnya lebih dikenal sebagai grup Jerman karena melantunkan lagu-lagu cadas berbahasa negara asal mereka. Sadar bahwa faktor bahasa dapat menghambat karier internasional mereka, Meine dan Schenker pun mulai mencoba menulis lagu dalam bahasa Inggris.

Hasilnya ternyata mengangkat The Scorpions sebagai grup terkemuka tidak saja di Eropa, tetapi juga di dunia. Kendati terus berganti formasi, namun duet Meine dan Schenker tetap dapat mempertahankan eksistensi The Scorpions sampai saat ini.

Mereka aktif merancang album sejak tahun 1972 ketika masih diperkuat formasi Schenker bersaudara, Rudolf dan Michael, Joe Wyman, Lothar Heimberg, dan Meine. Lewat album debut Lonesiome Crow, mereka terus berkarya untuk mewujudkan cita-cita menjadikan The Scorpions sebagai salah satu band terbaik di dunia.

Mereka merilis Fly To the Rainbow (1974), In Trance (1975), dan Virgin Killer (1976) yang menjadi album terbaik di Jerman dan di Jepang. Kemudian melalui Taken By Force (1977), Tokyo Tapes (1978), The Scorpions mulai dicatat sebagai salah satu grup bertaraf internasional.

Namun, bencana pernah nyaris menghalangi kelanjutan karier The Scorpions. Di tahun 1981, setelah mencatat sukses besar dalam tur dunia sepanjang tahun 1980, The Scorpions harus menghadapi kenyataan bahwa Meine kehilangan suara emasnya akibat terlalu lelah. Tetapi, dengan dukungan penuh rekan-rekannya yang kala itu merupakan formasi kelima, Meine diberikan kesempatan beristirahat sekaligus memulihkan suara khasnya.

Sepanjang dekade 1980, setelah pulihnya suara Meine, The Scorpions kembali menggebrak dunia dengan meluncurkan album Blackout (1982) yang meraih sukses sebagai album terbaik dan memperoleh penghargaan platinum karena laku terjual sampai satu juta kopi. Sebelumnya The Scorpions juga meraih sukses melalui album Animal Magnetism (1980) dan tahun 1984 merilis First Sting.

Grup-grup rock yang tengah berkibar baik pada dekade 1970 dan 1980 memberikan penghormatan khusus kepada Scorpions karena kesuksesannya menghasilkan Still Loving You, Always Somewhere, atau Rock You Like A Hurricane. Bahkan seperti Bon Jovi, Metallica, Iron Maiden, dan Def Leppard senantiasa mendukung penampilan The Scorpions tur dunia.

Sementara Rolling Stones menyebut The Scorpions sebagai "the heroes of heavy metal". Still Loving You kemudian dinobatkan sebagai lagu kebangsaan rock sepanjang dekade 1980 dan tetap melegenda sampai sekarang.

Ketika dunia mengalami perubahan besar dengan runtuhnya pemerintahan komunis di Eropa Timur dan Uni Soviet, The Scorpions merekam kondisi tersebut melalui lagu Wind Of Change. Lagu tersebut terinspirasi dari kegiatan konser The Scorpions di Eropa Timur, termasuk di Festival Musik Perdamaian di Moskwa (Uni Soviet) tahun 1989.

Konser yang digelar di Moskwa Agustus 1989 itu dapat disetarakan dengan Woodstock di Amerika Serikat akhir dekade 1960 karena dihadiri sekitar 260.000 penonton yang memadati Stadion Lenin. The Scorpions kemudian juga merekam Wind Of Change dalam versi bahasa Rusia.

Bahkan pada tahun 1991 mereka mendapat undangan khusus untuk bertemu dengan Pemimpin Uni Soviet, Mikhael Gorbachev, di Kremlin. Tak pelak lagi, kesesuaian lirik lagu Wind Of Change dengan kondisi dunia di awal tahun 1990-an membuat lagu yang menceritakan tentang perubahan yang diharapkan dapat mewujudkan harapan untuk perdamaian di masa mendatang.

Kesuksesan itu membawa Scorpions menerima Penghargaan Musik Dunia pada tahun 1992. Pergantian formasi di luar duet Meine dan Schenker tidak menggoyahkan posisi The Scorpions sebagai grup rock terkemuka sampai pertengahan 1990-an. Terbukti tahun 1994 Scorpions kembali menerima penghargaan musik dunia.

Wilayah Asia Tenggara termasuk Indonesia pun menjadi target konser mereka. Mereka menampilkan formasi terbaru dengan bergabungnya James Kottak dan meluncurkan album Eye To Eye pada tahun 1999

0 komentar:

Poskan Komentar